Pengendalian Persediaan dengan Peramalan dan EOQ

22

Penerapan EOQ perusahaan penjualan baja ringan

sourcecode EOQ berbasis web – xxxxxxxxx merupakan perusahaan yang bergerak di bidang penjualan produk baja ringan. Selama ini xxxxxxxxx belum menerapkan pengendalian persediaan, yaitu menentukan jumlah pembelian yang optimal sehingga biaya persediaan menjadi minimum. Selama ini pembelian persediaan hanya didasarkan pada intuisi manager. Manager merencanakan pembelian hanya melihat pada stok saat ini. Tidak ada rumusan dan kebijakan secara pasti titik beli kembali (reorder point) dan berapa jumlah pemesanan. Seringkali perusahaan membeli persediaan dalam jumlah yang relatif besar, yang dinilai merupakan kebijakan perusahaan yang kurang tepat kaitannya dengan penggunaan modal perusahaan.

 

Printscreen ada dibagian paling bawah artikel ini

 

Peramalan persediaan menggunakan timeseries forecasting : moving average, Single Exponential Smooting, Single Exponential Smooting with trend.

download sourcecode
Hubungi 085 640 5656 99

Terdapat DRAFT LAPORAN SKRIPSI lengkap dengan diagram UML yang dapat diedit.

 

Dari  data historis perusahaan diperoleh informasi permintaan pasar  atau jumlah penjualan yang selalu berubah (naik turun). Apabila perusahaan dapat memperkirakan atau meramalkan jumlah permintaan bulan-bulan yang akan datang, perusahaan dapat menetapkan titik beli kembali (reorder point) dan jumlah pemesanan optimal.  Reorder point dan jumlah pemesanan optimal dapat dihitung menggunakan metode Economic Order Quantity (EOQ). Jadi dapat dikatakan perusahaan perlu melakukan peramalan permintaan dan  metode EOQ  dalam  mengendalikan persediaan.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka akan dilakukan penelitian dengan mengambil judul ” Aplikasi Peramalan Permintaan Dan Pengendalian Persediaan Baja Ringan Metode Economic Order Quantity (EOQ) Pada xxxxxxxxx ”. Aplikasi diharapkan membantu mempercepat proses perhitungan peramalan permintaan dan menentukan jumlah pembelian baja ringan yang optimal sehingga dapat menurunkan biaya persediaan dan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dengan baik.

 

Rumusan Masalah

Sehubungan dengan adanya permasalahan yang sudah disebutkan diatas, maka  penulis akan membahas berbagai masalah, yaitu :

  1. Bagaimana sistem pengendalian persediaan yang baik untuk xxxxxxxxx ?
  2. Bagaimana merancang dan menghasilkan aplikasi pengendalian persediaan untuk xxxxxxxxx ?

 

Batasan Penelitian

Batasan penelitian adalah :

  1. Membahas pengendalian persediaan utamanya pada langkah peramalan dan menentukan jumlah pemesanan optimal menggunakan metode Economic Order Quantity (EOQ).
  2. Studi kasus peramalan dan penghitungan EOQ hanya dilakukan untuk beberapa jenis produk baja ringan.
  3. Asumsi yang digunakan :
  4. Tidak ada perubahan biaya penyimpanan, biaya pemesanan dan waktu tunggu selama penelitian berlangsung,
  5. Kondisi ekonomi dan politik yang dapat mempengaruhi jumlah permintaan tidak diperhitungkan,
  6. Tidak ada penambahan pasar baru selama penelitian berlangsung.
  7. Pengembangan perangkat lunak / aplikasi dilakukan menggunakan model waterfall (RogerS. Pressman, 2010), sampai dihasilkan sebuah perangkat lunak dan diuji bersama pemilik/manajer produksi, tidak sampai dilakukan pengujian dan implementasi ke penggunaan sebenarnya.
  8. Perancangan dilakukan menghasilkan pemrograman terstruktur / prosedural menggunakan bahasa pemodelan Unified Modeling Language (UML).
  9. Implementasi rancangan dilakukan menggunakan script pemrograman web PHP, dan basisdata MySQL.

 

Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian adalah:

  1. Untuk mengetahui metode peramalan permintaan (penjualan) terbaik dan mengetahui jumlah pemesanan (pembelian) baja ringan yang optimal dengan metode EOQ di xxxxxxxxx .
  2. Menghasilkan aplikasi pengendalian persediaan  xxxxxxxxx berbasis website.

 

 

sourcecode EOQ berbasis web

2.2.4  Peramalan

Menurut Nasution (2006:235), peramalan adalah proses untuk memperkirakan berapa kebutuhan di masa datang yang meliputi kebutuhan dalam ukuran kuantitas, kualitas, waktu dan lokasi yang dibutuhkan dalam rangka memenuhi permintaan barang ataupun jasa sourcecode EOQ berbasis web.

Peramalan permintaan merupakan tingkat permintaan produk – produk yang diharapkan akan terealisasi untuk jangka waktu tertentu pada masa yang akan datang. Ramalan penjualan merupakan proses aktivitas memperkirakan produk yang akan dijual dimasa mendatang dalam keadaan tertentu dibuat berdasarkan data-data yang pernah terjadi atau mungkin terjadi (Nafarin, 2007: 96).

Ramalan memang tidak selalu tepat 100%, karena masa depan mengandung masalah ketidakpastian, namun dengan pemilihan metode yang tepat dapat membuat peramalan dengan tingkat kesalahan yang kecil. Dari seluruh pendapat para ahli di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa peramalan adalah memperkirakan sesuatu yang akan terjadi dengan menggunakan data-data masa lalu.

 

Tujuan Peramalan

Menurut Gaspersz (2005:26), tujuan peramalan adalah untuk meramalkan permintaan dari item-item independent demand di masa yang akan datang. Sehingga dengan adanya peramalan manajemen produksi perusahaan akan mendapatkan gambaran keadaan produksi dimasa yang akan datang, dan akan memberikan kemudahan manajeman perusahaan dalam menentukan kebijakan yang akan dibuat oleh perusahaan.

 

Jenis Peramalan

Menurut Heizer dan Render (2014:115), perusahan atau organisasi menggunakan 3 tipe peramalan utama dalam merencanakan operasional untuk masa mendatang.

  1. Peramalan ekonomi (economic forecasts), menangani siklus bisnis dengan memprediksikan tingkat inflasi, uang yang beredar, mulai pembangunan perumahan, dan indikator perencanaan lainnya.
  2. Peramalan teknologi (technological forecasts), berkaitan dengan tingkat perkembangan teknologi, di mana dapat menghasilkan terciptanya produk baru yang lebih menarik, yang memerlukan pabrik dan perlengkapan yang baru.
  3. Peramalan permintaan (demand forecasts), adalah proyeksi atas permintaan untuk produk atau jasa dari perusahaan.

 

Peramalan mendorong keputusan sehingga para manajer memerlukan informasi dengan segera dan akurat mengenai permintaan yang sesungguhnya.Mereka memerlukan peramalan yang didorong oleh permintaan, di mana fokus perhatian pada pengidentifikasi dan pelacakan keinginan konsumen dengan sangat cepat. Peramalan ini sering menggunakan data poin penjualan saat ini, laporan yang dihasilkan dari para pengecer mengenai pilihan konsumen, dan banyak informasi lainnya yang akan membantu untuk meramalkan dengan data terkini sebanyak mungkin.

Peramalan yang didorong oleh permintaan akan mendorong produksi, kapasitas, dan sistem penjadwalan perusahaan serta melayani sebagai input bagi perencanaan keuangan, pemasaran, dan personel. Sebagai tambahan, payoff dalam pengurangan persediaan dan telah usang dapat menjadi besar.

 

 

Peramalan Menurut Horizon Waktunya

Manurut Heizer dan Render (2014:114) Peramalan biasanya diklasifikasikan dengan horizon waktu pada masa mendatang yang melingkupinya. Horizon waktu dibagi dalam 3 kategori sebagai berikut:

  1. Peramalan jangka pendek:

Peramalan ini memiliki rentang waktu sampai dengan 1 tahun, tetapi umumnya kurang dari 3 bulan. Digunakan untuk perencanaan pembelian, penjadwalan pekerjaan, level angkatan kerja, penugasan pekerjaan, dan level produksi.

  1. Peramalan jangka menengah: Kisaran menengah, atau intermediate, peramalan umumnya rentang waktu dari 3 bulan hingga 3 tahun. Berguna dalarn perencanaan penjualan, perencanaan produksi dan penganggaran, penganggaran uang kas, dan analisis variasi rencana operasional.
  2. Peramalan kisaran panjang: Umumnya 3 tahun atau lebih dalam rentang waktunya, peramalan jangka panjang digunakan dalam perencanaan untukprodukbaru, pengeluaran modal, lokasi tempat fasilitas atau perluasan, dan penelitian serta pengembangan.

 

 

Peramalan Permintaan

Permalan permintaan merupakan tingkat permintaan produk-produk yang diharapkan akan terealisir untuk jangka waktu tertentu pada waktu tertentu pada masa yang akan datang. Peramalan permintaan ini akan menjadi masukkan yang penting dalam keputusan perencanaan dan pengendalian perusahaan. Karena bagian operasional produksi bertanggung jawab terhadap pembuatan produk yang dibutuhkan konsumen, maka keputusan-keputusan operasi produksi sangat dipengaruhi hasil dari peramalan permintaan.Peramalan permintaan ini digunakan untuk meramalkan permintaan dari produk yang bersifat bebas (tidak tergantung), seperti peramalan produk jadi.

 

Tahap-Tahap Peramalan

Ada 8 tahap dalam melakukan peramalan (Heizer dan Render, 2009:150):

  1. Menentukan penggunaan dari peramalan tersebut – tujuan apakah yang ingin dicapai
  2. Memilih items atau kuantitas yang akan diramalkan.
  3. Menentukan horison waktu dari peramalan – apakah 1 sampai 30 hari (jangka pendek), 1 bulan sampai 1 tahun (jangka menengah), atau lebih dari 1 tahun (jangka panjang)
  4. Memilih metode peramalan.
  5. Mengumpulkan data yang diperlukan untuk membuat ramalan.
  6. Menentukan metode peramalan yang tepat.
  7. Membuat peramalan.
  8. Mengimplementasikan hasil dari peramalan.

 

Metode Peramalan

Menurut Taylor (2005:301) terdapat dua buah metode dalam melakukan peramalan, yaitu metode Time Series dan metode Kausal, dimana kedua metode ini memiliki 3 buah faktor yang mempengaruhi penilainnya. Ketiga faktor itu adalah :

  1. Faktor seri waktu (Time Series) : merupakan kategori teknik statistik yang menggunakan data historis untuk menentukan perilaku yang akan datang.
  2. Faktor Regresi : berusaha untuk mengembangkan hubungan-hubungan sistematis antara item yang diramalkan dengan faktor yang menyebabkan item tersebut memiliki perilaku tertentu, dimana diterjemahkan dalam bentuk model regresi.
  3. Faktor Kualitatif : berusaha untuk membuat peramalan dengan menggunakan penilaian, opini, dan pendapat manajemen. Metode yang biasa disebut “penilaian eksekutif” ini biasa digunakan oleh para petinggi perusahaan untuk mendapatkan peramalan jangka panjang. Peramalan dilakukan oleh sekelompok orang yang penilaiannya dianggap valid dibandingkan dengan kelompok lain.

 

Metode-metode yang ada adalah :

  1. Metode Time Series

Metode ini membuat peramalan dengan menggunakan asumsi bahwamasa depan adalah fungsi dari masa lalu. Tujuannya adalah untukmenentukan pola dalam deret data historis dan menterjemahkan polatersebut ke masa depan. Menganalisis time series berarti membongkardata masa lalu menjadi komponen-komponen dan kemudianmemproyeksikan ke masa atau periode yang akan datang. Model inisendiri memiliki 6 metode peramalan kuantitatif, yaitu :

  1. Naive Method

Ft = Yt – 1

Keterangan :

Ft = Ramalan penjualan

Yt = Penjualan

 

 

  1. Exponential Smoothing with trend

FIT = Ft + Tt

Keterangan :

FIT = Ramalan penjualan

Ft = Hasil perhitungan dengan menggunakan α

Tt = Hasil perhitungan dengan menggunakan β

 

  1. Exponential Smoothing

Ft = Ft-1 + (At-1 – Ft-1 ) α

Keterangan :

Ft = Ramalan penjualan

Ft-1 = Ramalan sebelumnya

At-1 = Permintaan aktual periode sebelumnya

a = Konstanta penghalusan

 

  1. Weighted Moving Average

Ft = (α x Yt1 + β x Yt2 + γ x Yt3)

Keterangan :

Ft = Ramalan penjualan

α = Alpha

β = Beta

γ = Gamma

Yt1 = Penjualan bulan 1

Yt2 = Penjualan bulan 2

Yt3 = Penjualan bulan 3

 

  1. Moving Average

Metode ini digunakan dan bermanfaat apabila kita menggunakan asumsi bahwa permintaan pasar lebih stabil sepanjang waktu. Metode ini dipakai untuk kondisi dimana setiap data pada waktu yang berbeda mempunyai bobot yang sama sehingga fluktuasi random data dapat diredam dengan rata-ratanya. Apabila tidak semua data masa lalu dapat mewakili asumsi pola data berlanjut terus di masa yang akan datang, maka dapat dipilih sejumlah N data pada periode tertentu saja.

Secara sistematis, metode rata-rata bergerak sederhana (yang menjadi estimasi dari permintaan periode berikutnya) ditunjukkan dengan :

Rata-rata bergerak n periode =

dimana n adalah banyaknya periode dalam rata-rata bergerak.

 

  1. Metode Kausal

Regresi linear, model kausal, bergabung menjadi model variabel atau hubungan yang bisa mempengaruhi jumlah yang sedang diramal.Model ini mengasumsikan bahwa faktor yang diramalkan mewujudkan hubungan sebab akibat dengan satu atau lebih independent variabel.Tujuan dari model ini adalah menemukan bentuk hubungan tersebut dan menggunakannya untuk meramalkan nilai mendatang dari dependent variabel.Pendekatan ini lebih kuat dibandingkan metode seri waktu yang hanya menggunakan nilai historis untuk variabel yang diramalkan.

  1. Linear Regression

Model matematika yang kita gunakan pada metode kuadrat terkecil dari proyeksi trend bisa digunakan untuk melakukan analisis regresi linear. Variabel-variabel tak bebas yang akan diramal tetap Y~ , namun sekarang variabel bebas x, bukan lagi waktu.

Yˆ = a + bx

Dimana,

Yˆ = Nilai variabel tidak bebas, yaitu penjualan

a = Perpotongan sumbu Y

b = Kelandaian garis regresi

x = Variabel bebas

 

 

Ketepatan Peramalan

Ketepatan peramalan adalah suatu hal yang mendasar dalam peramalan, yaitu bagaimana mengukur kesesuaian suatu metode peramalan tertentu untuk suatu kumpulan data yang diberikan. Ketepatan dipandang sebagai kriteria penolakan untuk memilih suatu metode peramalan. Dalam permodelan deret berkala (time series) dari data masa lalu dapat diramalkan situasi yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Untuk menguji kebenaran ramalan ini digunakan ketepatan ramalan.

Beberapa kriteria yang digunakan untuk menguji ketepatan ramalan antara lain :

  1. Nilai Tengah Galat (Mean Error)
  2. Nilai Tengah Galat Kuadrat (Mean Square Error)
  3. Nilai Tengah Galat Absolut (Mean Absolute Error)
  4. Nilai Tengah Galat Persentase Absolut (Mean Absolute Percentage Error)
  5. Nilai Tengah Galat Persentase (Mean Percentage Error)
  6. Jumlah Kuadrat Galat (Sum Square Error)
  7. Deviasi Standar Galat (Standard Deviation of Error)

 

2.3.5  Persediaan (Inventory)

Pengertian Persediaan

Dalam suatu perusahaan baik itu perusahaan perdagangan maupun perusahaan manufaktur pasti selalu mengandalkan persediaan. Persediaan sebagai kekayaan perusahaan, memiliki peranan penting dalam operasi bisnis.

Dalam perusahaan manufaktur, persediaan dapat terdiri dari persediaan bahan baku, bahan pembantu, barang dalam proses, barang jadi, dan persediaan suku cadang.

Menurut Marihot Manullang dan Dearlina Sinaga dalam Sofyan Assauri (2005:50), persediaan adalah sebagai suatu aktiva lancar yang meliputi barang-barang milik perusahaan dengan maksud untuk dijual dalam suatu periode usaha normal atau persediaan barang-barang yang masih dalam pekerjaan proses produksi ataupun persediaan bahan baku yang menunggu penggunaanya dalam suatu proses produksi.

Dari penjelasan tersebut persediaan dapat didefinisikan sebagai suatu bagian dari kekayaan perusahaan yang digunakan dalam rangkaian proses produksi untuk diolah menjadi barang setengah jadi dan akhirnya menjadi barang jadi ataupun sumberdaya perusahaan yang disimpan untuk mengantisipasi permintaan konsumen.

Setiap jenis persediaan mempunyai karakteristik tersendiri dan cara pengelolaan yang berbeda. Menurut jenisnya, persediaan dibedakan menjadi:

  1. Persediaan bahan mentah (raw material) yaitu persediaan barang-barang berwujud seperti baja, kayu, dan komponen-komponen lainnya yang digunakan dalam proses produksi. Bahan mentah dapat diperoleh dari sumber-sumber alam atau dibeli dari pemasok atau dibuat sendiri oleh perusahaan untuk digunakan dalam proses produksi selanjutnya.
  2. Persediaan komponen-komponen rakitan (purchased parts/component) yaitu persediaan barang-barang yang terdiri dari komponen-komponen yang diperoleh dari perusahaan lain di mana secara langsung dapat dirakit menjadi suatu produk.
  3. Persediaan bahan pembantu atau penolong (supplies) yaitu persediaan barang-barang yang diperlukan dalam proses produksi tetapi bukan merupakan bagian atau komponen barang jadi.
  4. Persediaan barang dalam proses (work in process) yaitu persediaan barang- barang yang merupakan keluaran dari tiap-tiap bagian dalam proses produksi atau yang telah diolah menjadi suatu bentuk, tetapi masih perlu diproses lebih lanjut menjadi barang jadi.
  5. Persediaan barang jadi (finished goods) yaitu persediaan barang-barang yang telah diproses atau diolah dalam pabrik dan siap untuk dijual atau dikirim ke pelanggan.

 

 

 

Tujuan Persediaan (Inventory) 

Herjanto (2007:238), beberapa tujuan penting yang dikandung oleh persediaan dalam memenuhi kebutuhan perusahaan, sebagai berikut:

  1. Menghilangkan risiko  keterlambatan  pengiriman  bahan  baku  atau  barang yang dibutuhkan perusahaan.
  2. Menghilangkan risiko jika material yang dipesan tidak baik sehingga harus dikembalikan.
  3. Menghilangkan risiko terhadap kenaikan harga barang atau inflasi
  4. Untuk menyimpan bahan  baku  yang  dihasilkan secara  musiman  sehingga perusahaan tidak akan kesulitan jika bahan itu tidak tersedia di pasaran
  5. Mendapatkan keuntungan dari pembelian berdasarkan diskon kuantitas.
  6. Memberikan pelayanan kepada pelanggan dengan tersedianya barang yang diperlukan.

 

Langkah-langkah Pengendalian Persediaan

Menurut Indrajit dan Djokopranoto (2011:71) untuk menjaga kelangsungan beroperasinya suatu pabrik atau fasilitas lain, diperlukan bahwa beberapa jenis material tertentu dalam jumlah minimum tersedia di gudang, supaya sewaktu-waktu ada yang rusak, dapat langsung diganti. Tetapi material yang disimpan dalam persediaan juga jangan terlalu banyak, ada maksimumnya, agar biayanya tidak menjadi terlalu mahal.

Pengendalian persediaan merupakan suatu sistem yang dilakukan untuk memonitor semua transaksi yang terjadi pada persedian terutama pada jumlah transaksi dan waktu transaksi.

Berikut adalah beberapa tujuan persediaan (Jacobs & Richard, 2011:594):

  • Menjaga kelancaran operasi bisnis perusahaan
  • Mengetahui variasi permintaan
  • Fleksibilitas penjadwalan produksi
  • Menjaga hal-hal yang tak terduga seperti adanya keterlambatan pengiriman bahan
  • Mengambil keuntungan dari ukuran pembelian bahan baku

Metode pengendalian persediaan mencari jawaban optimal dalam menentukan jumlah ukuran pemesanan yang ekonomis (EOQ), titik pemesanan kembali atau reorder point (ROP), dan jumlah stock cadangan yang diperlukan (SS).

Metode pengendalian persediaan yang bersifat statistic ini biasanya digunakan untuk mengendalikan barang yang permintaannya bersifat bebas dan pengelolannya tidak tergantung dengan ada tidaknya produksi barang lain. Yang berpengaruh hanyalah mekanisme pasar.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, pengendalian persediaan berhubungan erat dengan jumlah pemesanan persediaan (Q) dan waktu yang tepat untuk melakukan pemesanan (R).

Inventory control yaitu pengendalian tingkat persediaan sedemikian rupa sehingga setiap kali barang diperlukan, selalu tersedia dan harus menjaga agar tingkat persediaan seminimal mungkin untuk menghindari investasi berupa biaya penyediaan yang besar.Secara ideal, sebetulnya persediaan minimum seharusnya adalah nol dan persediaan maksimum adalah sebanyak yang secara ekonomis mencapai optimal.Jadi dapat dibayangkan bahwa pada waktu barang habis, pemesanan barang sejumlah yang paling ekonomis datang.Tetapi ini perhitungan teori, artinya dalam kenyataan tidaklah dapat dijamin bahwa perencanaan dapat secara sempurna terpenuhi.

Ada kemungkinan pemakaian barang berubah dan meningkat secara mendadak, ada kemungkinan barang yang dipesan datang terlambat dan sebagainya.Oleh karena dalam menentukan minimum dan maksimum ini ada faktor pengaman yang dapat dihitung berdasarkan pengalaman.Berdasarkan pemikiran tersebut, timbul formula min-max stock untuk pengisian kembali persediaan.

Sistem persediaan terbagi dalam 2 periode sistem, yaitu single-period system dan multi-period system. Pengelompokan ini berdasarkan pada keputusan pembelian barang persediaan pada satu periode tertentu, dimana dalam periode tersebut dilakukan satu kali pembelian, dan kemudian barang persediaan tidak akan dipesan lagi hingga periode tersebut berakhir.

  1. Single-period inventory system

Sistem persediaan ini dapat dimanfaatkan ketika barang yang akan didistribusikan kepada konsumen memiliki limited life, tidak dipakai untuk jangka waktu yang lama atau secara berkelanjuta seperti; koran, tiket pesawat terbang, fashion, dan lain-lain.

  1. Multi-period system

Sistem persediaan ini dapat    digunakan apabila barang persediaan akan digunakan secara berkelanjutan.

Sistem ini dibagi dalam 2 tipe yaitu fixed-order period (Q-model) dan fixed-time period (P-model).

  1. Q-Model (fixed-order period)

Untuk perhitungan jumlah pemesanan barang yang optimal dan re- order point, rumus yang digunakan adalah:

 

Keterangan :

z = standar deviasi untuk service probability

D = demand selama 1 tahun

S = biaya pemesanan

H = biaya penyimpanan

SS = safety stock

R = re-order point Q* = jumlah pemesanan optimal

  1. P – Model (fixed-time period)

P-model mengacu pada aturan pemesanan yang bersifat regular mengikuti suatu periode yang tetap, tetapi kuantitas dari barang yang dipesan berbeda-beda.Namun, kesulitan dalam pengimplementasian teknik in adalah diskontinuitas permintaan kebutuhan bersih, sehingga interval pemesanan yang telah ditentukan sebelumnya tidak berlaku lagi.

Perhitungan jumlah pemesanan yang optimal adalah sebagai berikut :

 

 

Keterangan :

I = Persediaan dalam stock

T* = Selang waktu pemesanan kembali

L = Waktu pengiriman

s = Standar deviasi

SS = Safety Stock

d = Permintaan rata-rata

           

Tahapan Pengendalian Persediaan

Adapun dalam pengendalian persediaan khususnya pada pengendalian persediaan bahan baku dengan menggunakan metode min-max stock meliputi beberapa tahapan yaitu:

 

  1. Menentukan EOQ

Menurut Sofjan Assauri (2004:182) EOQ dapat diartikan sebagai : “Economic order quantity merupakan jumlah atau besarnya pesanan yang memiliki jumlah ordering costs dan carrying costs per tahun paling minimal”.

Perhitungan EOQ dengan menggunakan rumus menurut Indrajit dan Djokopranoto (2011:84)

 

 

Keterangan :

EOQ    = Jumlah persediaan yang ekonomi

D         = Kebutuhan bahan baku dalam satu periode

Co       = Biaya pesan bahan baku

 

 

  1. Menentukan Persediaan Minimum (Minimum stock)

Minimum Stock adalah jumlah pemakaian selama waktu pesanan pembelian yang dihitung dari perkalian antara waktu pesanan per periode dan pemakaian rata-rata dalam satu bulan/minggu/hari ditambah dengan persediaan pengaman.Persediaan minimum merupakan batas jumlah persediaan yang paling rendah atau kecil yang harus ada untuk suatu jenis bahan atau barang.Oleh karena persediaan minimum ini dimaksudkan untuk menghindari kemungkinan kekurangan bahan atau persediaan (stock out), maka persediaan minimum ini merupakan persediaan penyelamat (safety stock).

Jadi besarnya persediaan minimum dalam suatu perusahaan hendaknya sama dengan besarnya persediaan penyelamat (safety stock).

 

Rumus Persediaan Minimum (Minimum Inventory) menurut Indrajit dan Djokopranoto (2011:87)

Minimum Inventory = (T x C) + R

Keterangan:

T = Pemakaian barang rata-rata per periode (ton/meter/liter)

C = Lead Time (bulan)

R = Safety Stock (ton)

 

  1. Menentukan Persediaan Maksimum (Maximum Inventory)

Maximum Stock adalah jumlah maksimum yang diperbolehkan disimpan dalam persediaan.Jumlah yang perlu dipesan untuk pengisian persediaan kembali.Persediaan maksimum merupakan batas jumlah persediaan yang paling besar (tertinggi) yang sebaiknya dapat diadakan oleh perusahaan.Batas persediaan maksimum ini kadang-kadang tidak didasarkan atas pertimbangan efisiensi dan keefektifan kegiatan perusahaan.Sehingga persediaan maksimum dalam hal ini hanya didasarkan atas kemampuan perusahaan saja terutama kemampuan keuangan perusahaan, kemampuan gudang yang ada dan pembatasan-pembatasan dari sifat-sifat atau kerusakan bahan-bahan tersebut.

Rumus Persediaan Maksimum (Maximum Inventory) menurut Indrajit dan Djokopranoto (2011:89)

Maximum Inventory = 2(T x C)

Keterangan:

T = Pemakaian barang rata-rata per periode (ton/meter/liter)

C = Lead Time (bulan)

 

  1. Menentukan Persediaan Pengaman (Safety Stock)

Safety Stock atau persediaan pengaman adalah persediaan ekstra yang perlu ditambah untuk menjaga sewaktu-waktu ada tambahan kebutuhan atau keterlambatan kedatangan barang.

Rumus Persediaan Pengaman (Safety Stock) menurut Indrajit dan Djokopranoto (2011:89)

Safety Stock = (Pemakaian Maksimum — T) x C

 

Keterangan:

T = Pemakaian barang rata-rata per periode (ton/meter/liter)

C = Lead Time (bulan)

 

  1. Titik atau tingkat pemesanan kembali (reorder point/level)

Titik pemesanan kembali adalah suatu titik atau batas dari jumlah persediaan yang ada pada suatu saat dimana pemesanan harus diadakan kembali.Dalam menentukan titik ini kita harus memperhatikan besarnya penggunaan bahan selama bahan- bahan yang dipesan belum diterima, ditentukan oleh factor waktu dan penggunaan rata-rata.

 

Tingkat Pemesanan Persediaan Kembali (Reorder Point) menurut Indrajit dan Djokopranoto (2011:89)

DD = D : Days per Year

ROP = SS + (LT x DD)

Keterangan

DD = Days Demand rate

SS = Persediaan Pengaman yang selalu ada di perusahaan

LT = Lead time

 

PRINTSCREEN aplikasi pengendalian persediaan metode EOQ dilengkapi dengan peramalan

 

notifikasi stok kritis aplikasi pengendalian persediaan metode EOQ

 

 

kalkulator EOQ aplikasi pengendalian persediaan metode EOQ

 

 

peramalan aplikasi pengendalian persediaan metode EOQ

75%
Fair
  • Design
  • Fitur

Anda mungkin ingin membaca ini