Belajar Sistem ATM (Amati, Tiru, Modifikasi)

Strategi amati tiru modifikasi(ATM) merupakan turunan salah satu dari 7 komponen pendekatan pembelajaran Contextual Teaching and Learning(CTL), yaitu pemodelan.
Pemodelan dalam CTL adalah pemberian model atau contoh yang bisa ditiru.
Model itu bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu, atau guru memberi contoh cara mengerjakan sesuatu. Tahapan dalam strategi ATM adalah tahapan mengamati, meniru, dan memodifikasi.
Agar strategi ATM berjalan dengan baik, maka dibutuhkan sebuah media.
Media adalah segala sesuatu yang berfungsi sebagai perantara/ sarana/ alat untuk proses komunikasi dalam kegiatan belajar mengajar.

 

Tahapan pada strategi ATM

Tahap-tahap pada strategi ATM (Soekadji, 1983:81) dimulai dari tahap amati. Kegiatan “amati” dapat dilihat dari proses mengamati suatu model kemudian menganalisis unsur-unsur model yang telah dilihat. Dalam menganalisis unsur-unsur suatu model, siswa mengidentifikasi dan menguraikan unsur yang disajikan dalam tampilan kemudian memahaminya secara utuh.Pada prinsipnya mengamati adalah proses belajar dan menyerap pengalaman orang lain. Oleh karenanya menuntut kejelian dan kecerdikan. Seorang pengamat yang baik adalah yang berhasil menyerap banyak hal dari obyek yang diamati, termasuk
kekurangan dan kelebihannya.

 

Setelah tahap “amati”, tahap selanjutnya adalah tahap “tiru” atau meniru.
Setelah proses pengamatan usai dilakukan dan memperoleh pengetahuan yang cukup, langkah selanjutnya adalah melakukan action. Proses meniru dimulai dari tahap perencanaan. Dengan adanya contoh yang telah diamati maka menyusun perencanaan menjadi lebih mudah. Perencanaan yang dimaksudkan adalah perencanaan untuk menentukan unsur-unsur mana yang akan diadaptasi dari model yang telah diamati sebelumnya. Kegiatan meniru juga bukan serta-merta menjiplak sepersis mungkin model yang telah ditampilkan, melainkan mengambil
hal-hal penting dan hal-hal yang menarik. Serta meniru hal-hal yang dianggap mampu untuk selanjutnya dapat dikembangkan lebih baik lagi.

 

Selanjutnya tahap “modifikasi”, yaitu tahap untuk melakukan pengubahan.
Tahap ini dirasa paling penting, mengingat perbedaan karakter, gaya, sumber daya dan kondisi antar individu menuntut modifikasi harus dilakukan. Selain sebagai penyesuaian, modifikasi juga bertujuan untuk menutup kelemahan (dari hasil pengamatan) dan memberi nilai tambah. Pada tahapan inilah diperlukan kreativitas dan kejelian, agar perubahan/penyesuaian yang dilakukan dapat menambah daya tarik dan efektivitas.